Logo SantriDigital

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia yoy 5,61% dan Inflasi terkendali di 2,44%, jangan pesimis! Jangan nyinyir dan malah nyebar info ketakutan dan gak percaya dengan Pemerintah!

Kultum
M
Mahmud Syaltout
8 Mei 2026 4 menit baca 2 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِه...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: {وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ}. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي. Hadirin sekalian yang dirahmati Allah, para Bapak, Ibu, Saudara-saudari sekalian yang saya cintai karena Allah. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Jalan-jalan ke pasar beli kedondong, Pulangnya mampir makan roti goyeng. Kalau hidup cuma ngeluh melulu kok bohong, Padahal ekonomi naik, pemerintah sedang berjuang! Nah lho, kok pada geleng-geleng? Ada yang udah mulai mikir, "Enak banget pidato di depan, situ tahu nggak rasanya dagangan saya sepi?" Iya, iya, saya tahu, saya juga manusia biasa yang sesekali pingin beli cilok tapi mikir-mikir dulu recehnya. Tapi, coba kita lihat fakta di depan mata kita, bukan cuma di layar kaca atau grup WhatsApp tetangga yang isinya kadang bikin mules. Saudara-saudaraku, kalau kemarin ada berita pertumbuhan ekonomi kita mencapai 5,61% year-on-year, dan inflasi terkendali di angka 2,44%, itu kan kayak resep masakan, bumbunya pas! Nggak keasinan, nggak hambar. Ini bukan sulap, bukan sihir, tapi hasil kerja keras. Memang sih, angka itu mungkin terasa jauh dari piring nasi kita. Tapi, coba bayangkan, kalau ekonomi sedang "demam tinggi", harganya barang kan ikut menjerit. Nah, ini inflasinya stabil, artinya harga-harga relatif terkendali. Bawa anak istri ke warung kopi sedikit lebih tenang lah ya, nggak khawatir dompet langsung nangis bombay. Kadang saya heran, kok ya ada ya orang yang sukanya nyebar virus negatif? Dengar kabar baik, bukannya senyum, malah cari celah buat nyinyir. Dengar ekonomi naik, bilangnya "Ah itu cuma data statistik, nggak kerasa di rakyat kecil!" Dengar pemerintah bikin program, bilangnya "Ah itu cuma pencitraan!" Duh, kayak tukang sihir yang nggak pernah percaya kalau ada yang bisa bikin hujan, padahal udah jelas-jelas mendung. Dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman: "يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ آذَوْا مُوسَى فَبَرَّأَهُ اللَّهُ مِمَّا قَالُوا وَكَانَ عِنْدَ اللَّهِ وَجِيهًا" (Surat Al-Ahzab: 69) Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa; tetapi Allah membersihkan dari orang-orang yang mereka katakan. Dan adalah dia seorang yang terhormat di sisi Allah." Kita dilarang menyakiti, apalagi menyebar fitnah dan ketakutan yang tidak berdasar. Nabi Muhammad SAW sendiri bersabda: "الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ" (HR. Bukhari dan Muslim) Artinya: "Orang Muslim sejati adalah orang yang selamat dari lisan dan tangannya (perbuatan buruk) orang lain." Nah, kalau lisan kita malah jadi sumber ketakutan dan ketidakpercayaan, berarti kita belum jadi Muslim sejati dong, ya? Coba kita lihat analogi sederhana. Bayangkan ada sekeluarga yang lagi berusaha membangun rumah. Si Bapak kerja keras siang malam, si Ibu menghemat pengeluaran, anak-anaknya belajar dengan giat. Tiba-tiba ada tetangga datang, bisik-bisik, "Nggak bakal jadi rumahnya itu! Fondasinya jelek, atapnya bocor!" Gimana perasaan keluarga itu? Pasti kesal dan semangatnya turun drastis. Padahal, kita ini kan satu keluarga besar, satu bangsa Indonesia. Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu pernah berkata: "Seandainya aku punya satu pasukan kerikil di tanganku, dan aku tahu separuhnya akan masuk surga, pasti aku akan berbangga diri. Tetapi, kalau aku punya satu pasukan kerikil dan aku tahu separuhnya akan masuk neraka, sungguh itu akan membuatku sedih." (Dikutip dari berbagai sumber, makna dekat) Ini menunjukkan betapa beliau pedulinya pada kondisi umat dan masa depan mereka, bukan malah menciptakan pesimisme. Beliau selalu mencari solusi, bukan mengeluh. Jadi, saudara-saudaraku, mari kita buang jauh-jauh rasa pesimis dan rasa curiga yang tidak pada tempatnya. Kalau ada kabar baik, mari kita dukung. Kalau ada kekurangan, mari kita doakan perbaikan, dan kalau bisa, kita bantu sebisa kita. Jangan sampai lisan kita malah jadi "bom waktu" yang merusak persatuan dan kepercayaan. Ada pepatah mengatakan, "Optimisme adalah iman yang menginspirasi keajaiban dan menuntun pada pencapaian." Jadi, mari kita tanamkan iman dan optimisme itu. Mari kita sama-sama berdoa agar Allah terus memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada negeri ini, agar pertumbuhan ekonomi terus membaik, inflasi tetap stabil, dan seluruh rakyat Indonesia senantiasa dalam kebahagiaan dan keberkahan. Mari kita tinggalkan kebiasaan "nyinyir" yang hanya menambah masalah baru. Di atas kebaikan yang sudah ada, mari kita cari kebaikan further. Saling menguatkan, saling mendoakan. Semoga Allah SWT senantiasa melindungi negeri kita, Indonesia tercinta, dan seluruh rakyatnya. Aamiin ya Rabbal 'alamin. وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →